Kondisi tersebut memancing gelombang keluhan warga di media sosial. Salah satunya disampaikan Indah Nira Sukma, warga Sumut yang mengaku harus mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan BBM.
"Isi BBM seperti mau antre bansos, kami beli pakai duit," tulis Indah melalui akun Instagram pribadinya, @indahnirasukma.
Ia mengaku mulai mengantre sejak pukul 03.00 WIB dan baru berhasil mengisi BBM sekitar pukul 18.00 WIB. Menurutnya, lamanya antrean membuat banyak pengendara kelelahan hingga terpaksa memanfaatkan musala di kawasan SPBU untuk beristirahat.
Baca Juga: Proyek Raksasa Masela Diproyeksi Setor Rp615 Triliun ke Negara
Unggahan tersebut memperlihatkan deretan kendaraan yang mengular panjang serta wajah-wajah lelah para pengendara yang menunggu giliran mengisi bahan bakar.
Krisis BBM di Sumatera Utara dilaporkan telah berlangsung selama empat hari. Antrean kendaraan bahkan disebut sempat memadati akses menuju gerbang utama Bandara Internasional Kualanamu.
Untuk menjaga ketertiban, personel Polsek Kawasan Bandara Kualanamu bersama petugas Aviation Security (Avsec) diterjunkan mengatur arus kendaraan dan proses pengisian BBM agar tetap kondusif.
Pemkot Minta Pertamina Percepat Distribusi
Menanggapi situasi tersebut, Wali Kota Medan Rico Waas menyatakan telah meminta PT Pertamina mempercepat normalisasi distribusi BBM ke seluruh SPBU.
Menurut Rico, antrean panjang tidak boleh berlarut-larut karena berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan perekonomian daerah.
"Pemerintah Kota Medan akan terus berkoordinasi dengan Pertamina sekaligus mengawal proses distribusi agar pasokan BBM kembali lancar," ujarnya dalam keterangan resmi.
Kadin: Ancaman Serius bagi Ekonomi
Kelangkaan BBM juga menjadi perhatian dunia usaha. Ketua Umum Kadin Sumatera Utara, Firsal Dida Mutyara, menilai krisis pasokan bahan bakar dapat memicu efek domino terhadap aktivitas ekonomi.
Menurutnya, BBM merupakan penopang utama distribusi logistik. Ketika pasokan terganggu, bukan hanya kendaraan yang berhenti, tetapi juga rantai distribusi barang, biaya produksi, hingga mobilitas pelaku usaha.
Baca Juga: 28 Tahun Dinanti, Prabowo Resmikan Groundbreaking Proyek Raksasa LNG Abadi Masela
"Ketika BBM langka, yang macet bukan hanya kendaraan. Rantai pasok bahan pokok, biaya produksi, dan mobilitas usaha ikut terganggu," katanya.
Kadin Sumut menilai antrean panjang yang terjadi di Medan dan sejumlah jalur distribusi berpotensi meningkatkan biaya logistik, mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok, memicu inflasi, hingga mengancam keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sumber: Promedia
Artikel Terkait
Investasi Tembus Rp1.010 Triliun, Luar Jawa Ungguli Jawa dan Serap 1,4 Juta Pekerja
Proyek Raksasa Masela Diproyeksi Setor Rp615 Triliun ke Negara