Di balik keberhasilannya, tersimpan perjalanan panjang yang dibangun sejak bangku sekolah dasar. Berbagai kompetisi, kegiatan akademik, hingga pengembangan portofolio dijalani secara konsisten demi membuka peluang meraih pendidikan di kampus impiannya.
"Saya adalah generasi pertama di keluarga saya yang berhasil ke luar negeri dan juga mendapatkan beasiswa ke luar negeri," ujar Lovenia usai mengikuti pembekalan penerima Beasiswa Garuda Gelombang I Tahun 2026 di Jakarta, Kamis (9/7).
Baginya, kebahagiaan terbesar bukan semata diterima di UC Berkeley, melainkan melihat kedua orang tuanya menyaksikan hasil dari perjuangan yang telah ditempuh selama bertahun-tahun.
"Saya sangat bisa merasakan bahwa mereka sangat terharu dan sangat berbahagia karena mereka sudah tahu bagaimana usaha saya dari kecil, dari SD, SMP, sampai SMA dalam membangun portofolio dan meraih berbagai pencapaian," katanya.
Lovenia mengakui, tanpa dukungan Beasiswa Garuda, impiannya menempuh pendidikan di Amerika Serikat hampir mustahil diwujudkan. Tingginya biaya pendidikan menjadi tantangan utama yang kini dapat diatasi melalui program tersebut.
"Puji Tuhan saya sangat bersyukur mendapatkan Beasiswa Garuda. Ini sebuah kesempatan yang sangat berharga dan tidak semua orang bisa mendapatkannya. Saya memang mengincar kampus yang sangat baik di Amerika, tetapi dengan kemampuan finansial pribadi, saya tidak mungkin bisa berkuliah di sana," ujarnya.
Di UC Berkeley, Lovenia akan mendalami ilmu kebumian dengan fokus pada hidrometeorologi, ilmu atmosfer, kelautan, konservasi lingkungan, serta pengembangan teknologi pemodelan untuk radar cuaca dan mitigasi bencana. Minat itu tumbuh ketika ia mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Kebumian.
Pengalaman mengikuti kompetisi tersebut membuka ketertarikannya terhadap hubungan antara atmosfer, cuaca, dan sumber daya air. Dari situlah ia mulai mencari perguruan tinggi yang memiliki reputasi kuat di bidang Earth and Planetary Science.
"Saya menemukan passion baru di bidang kebumian, terutama hydrometeorology, yang mempelajari ilmu atmosfer dan kelautan. Dari situ saya semakin yakin ingin mendalami bidang tersebut dan mencari universitas terbaik yang memiliki program studi itu," tuturnya.
Lovenia berharap ilmu yang diperolehnya selama belajar di Amerika Serikat dapat dibawa pulang untuk memberikan manfaat bagi Indonesia. Ia ingin berkontribusi dalam pengembangan teknologi mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan, mengingat Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana alam cukup tinggi.
Menurutnya, Beasiswa Garuda bukan sekadar bantuan pembiayaan pendidikan, tetapi menjadi jembatan bagi generasi muda Indonesia untuk mengakses pendidikan berkualitas dunia, memperluas wawasan global, sekaligus membangun kapasitas yang dapat kembali diabdikan bagi bangsa.
Ia juga berharap perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan terus diperkuat, tidak hanya melalui dukungan kepada peserta didik, tetapi juga peningkatan kualitas guru dan tenaga pendidik.
"Saya berharap bukan hanya para siswa yang mendapatkan kesempatan untuk belajar setinggi mungkin, tetapi juga guru dan tenaga pengajar di Indonesia terus didukung agar kualitas pendidikan kita semakin baik," ujarnya.
Di akhir kesempatan, Lovenia menyampaikan apresiasi kepada pemerintah atas penyelenggaraan Beasiswa Garuda yang dinilainya telah membuka harapan baru bagi banyak pelajar Indonesia untuk menggapai pendidikan di kampus-kampus terbaik dunia.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan seluruh jajaran pemerintah yang telah menghadirkan Beasiswa Garuda. Semoga program ini dapat terus berlanjut dan memberi kesempatan kepada lebih banyak generasi muda Indonesia untuk meraih cita-citanya," katanya.
Sumber: Beasiswa Garuda Kemdiksaintek