KORANKITA.COM|Bandung – Seberapa irit mobil plug-in hybrid (PHEV) dalam penggunaan nyata? Pertanyaan itu coba dijawab melalui pengujian langsung terhadap BYD M6 DM dalam media test drive yang menempuh rute Bandung-Padalarang-Purwakarta-Wanayasa-CiaterBandung dengan jarak sekitar 152 kilometer.
Pengujian tidak dilakukan dalam kondisi ideal atau dengan teknik eco driving. Rute yang dilalui mencakup jalan tol, tanjakan, turunan, tikungan, kemacetan di kawasan perkotaan, hingga jalan antarkota yang lebih menantang sehingga dinilai lebih mencerminkan penggunaan harian.
Selama perjalanan, mobil dikendarai dalam mode otomatis dengan pendingin kabin tetap menyala pada suhu 18–23 derajat Celsius. Kendaraan juga membawa tiga penumpang dewasa dengan total bobot sekitar 180–200 kilogram. Akselerasi dilakukan secara normal, bahkan sesekali pedal gas diinjak cukup dalam untuk mengikuti irama rombongan.
Baca Juga: Prabowo Pangkas Harga BBM Nelayan Jadi Rp15.000, Kapal 30+200 GT Kini Lebih Ringan Melaut
Kecepatan rata-rata yang tercatat di panel instrumen sekitar 31 kilometer per jam. Angka tersebut dipengaruhi beberapa kali pemberhentian untuk dokumentasi, pergantian lokasi, dan pengarahan selama kegiatan berlangsung.
Bensin Terpakai Hanya 2,19 Liter
Untuk memastikan hasil pengujian lebih akurat, konsumsi bahan bakar tidak hanya mengacu pada data panel instrumen. Penghitungan dilakukan menggunakan metode full to full, yakni mengisi kembali tangki hingga penuh setelah perjalanan selesai.
Hasilnya, untuk menempuh jarak sekitar 152 kilometer, bensin yang dibutuhkan hanya 2,19 liter Pertamax dengan nilai sekitar Rp35.590.
Namun angka tersebut tidak bisa langsung dijadikan patokan utama efisiensi, mengingat BYD M6 DM merupakan kendaraan plug-in hybrid yang menggabungkan tenaga listrik dan mesin bensin.
Listrik Jadi Sumber Tenaga Utama
Perjalanan dimulai dengan kondisi baterai terisi penuh 100 persen. Saat mencapai kawasan Ciater, kapasitas baterai turun menjadi sekitar 20 persen. Dalam perjalanan kembali ke Bandung, sistem regenerative braking memanfaatkan energi saat deselerasi untuk mengisi ulang baterai hingga mencapai sekitar 27 persen saat finis.
Baca Juga: BBM Nelayan Rp15 Ribu Tak Cukup, GNTI Desak Benahi Distribusi
Sepanjang pengujian, mesin bensin hanya bekerja ketika sistem memerlukan tambahan tenaga, seperti saat baterai mulai menipis atau kendaraan menghadapi tanjakan dan akselerasi lebih tinggi.
Dengan kapasitas baterai sebesar 18,3 kWh, energi listrik yang digunakan diperkirakan sekitar 13,36 kWh. Jika dihitung menggunakan tarif listrik rumah tangga sekitar Rp2.400 per kWh, biaya pengisian listrik selama perjalanan mencapai kurang lebih Rp32 ribu.
Total Biaya Energi Rp67 Ribu
Jika biaya listrik digabungkan dengan konsumsi bensin, total energi yang dikeluarkan selama perjalanan sekitar Rp67.600.
Artinya, biaya operasional untuk menempuh jarak 152 kilometer berada di kisaran Rp445 per kilometer.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada kendaraan plug-in hybrid seperti BYD M6 DM, ukuran efisiensi tidak lagi cukup dilihat dari konsumsi bensin semata. Yang lebih relevan adalah menghitung total biaya energi, gabungan listrik dan bahan bakar yang dibutuhkan untuk menyelesaikan perjalanan.
Dalam pengujian kali ini, total biaya tersebut berada di kisaran Rp67 ribu, sekaligus menggambarkan bagaimana sistem Dual Mode (DM) bekerja dengan memaksimalkan tenaga listrik dan mengaktifkan mesin bensin hanya saat diperlukan.
Editor: Delky Nofrizal
Terkini
Rabu, 15 Juli 2026 | 22:10 WIB
Rabu, 15 Juli 2026 | 21:49 WIB
Rabu, 15 Juli 2026 | 18:10 WIB
Artikel Terkait
BBM Nelayan Rp15 Ribu Tak Cukup, GNTI Desak Benahi Distribusi
Prabowo Pangkas Harga BBM Nelayan Jadi Rp15.000, Kapal 30+200 GT Kini Lebih Ringan Melaut