Sabtu, 18 Juli 2026

Konten Sepi Penonton? Ini Strategi Jitu Meningkatkan Engagement di Tiap Platform Media Sosial

Photo Author
Delky Nofrizal, Korankita.com
- Kamis, 16 Juli 2026 | 16:21 WIB
Webinar Promedia tentang Introduction to Media Sosial Environment (Dok. Promedia)
Webinar Promedia tentang Introduction to Media Sosial Environment (Dok. Promedia)
KORANKITA.COM | Jakarta – Mengapa satu konten bisa viral, tetapi unggahan berikutnya justru sepi peminat? Pertanyaan itu menjadi salah satu topik yang dibahas dalam webinar gratis yang digelar Promedia Group bertajuk "Inside the Digital Ecosystem: Membedah Platform dan Pola Kerja Kreator Profesional", Kamis (16/7/2026).

Webinar yang diikuti jurnalis mitra Promedia Group dan masyarakat umum tersebut menghadirkan General Manager Media Network Promedia Group, Agil Hari Santoso, sebagai pembicara utama.

Dalam pemaparannya, Agil menegaskan bahwa tingginya engagement tidak hanya ditentukan oleh topik yang sedang viral, tetapi juga kemampuan kreator memahami karakter setiap platform media sosial beserta kebiasaan penggunanya.

"Kita sering mengalami konten yang diunggah memiliki engagement tinggi, baik dari jumlah penonton maupun kenaikan pengikut. Namun, dua atau tiga konten berikutnya justru bisa mengalami penurunan," ujar Agil.

Menurut dia, mengejar tren tanpa strategi justru berisiko membuat kreator mengalami kelelahan atau burnout. Karena itu, memahami cara kerja masing-masing platform menjadi kunci agar produksi konten tetap konsisten sekaligus relevan bagi audiens.

Agil menjelaskan, setiap media sosial memiliki karakter yang berbeda sehingga format konten juga perlu disesuaikan. Di platform seperti X dan Threads, misalnya, pengguna lebih menyukai pembahasan yang disajikan dalam bentuk utas sehingga mendorong interaksi dan diskusi.

Baca Juga: Dari Panas dan Bocor, Kini Lebih Teduh: Kisah Wartawan yang Terbantu Program Ganti Atap Rumah

Sementara itu, video pendek seperti Instagram Reels dapat diadaptasi ke TikTok dengan penyesuaian keterangan atau caption. Adapun video berdurasi panjang di YouTube bisa dipotong menjadi YouTube Shorts untuk menjangkau lebih banyak pengguna.

Facebook, menurut Agil, juga memiliki karakter tersendiri. Platform tersebut masih didominasi pengguna berusia lebih dewasa, banyak diwarnai komunitas, serta lebih efektif untuk konten bergaya storytelling maupun artikel yang menyertakan tautan.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa konten di media sosial umumnya memiliki siklus yang cepat sehingga mudah tenggelam ketika tren berganti.

Agil juga menyarankan kreator untuk mempertimbangkan fokus pada satu platform jika memiliki keterbatasan waktu dan sumber daya.

"Fokus pada satu platform memang lebih sederhana dan tidak terlalu melelahkan. Namun, di sisi lain ada peluang di platform lain yang mungkin terlewat. Sebaliknya, jika aktif di banyak platform, kreator harus menyesuaikan kembali format konten sesuai karakter masing-masing," katanya.

Ia menyarankan setiap proses produksi diawali dengan riset topik dan penyusunan kerangka konten. Artikel panjang dapat dipublikasikan di website atau blog pribadi, kemudian dikembangkan menjadi utas di X dan Threads, infografik di Instagram, video pendek di TikTok, hingga YouTube Shorts.

Baca Juga: Test Drive BYD M6 DM 152 Km: Bensin Hanya 2,19 Liter, Berapa Biaya Energi Sebenarnya?

Selain media sosial, webinar tersebut juga membahas pentingnya website sebagai aset digital jangka panjang. Berbeda dengan media sosial yang bergantung pada algoritma dan tren, artikel di website memiliki umur konten lebih panjang karena dapat terus ditemukan melalui mesin pencari.

"Kontennya tetap bisa ditemukan audiens pada saat mereka membutuhkan. Selain itu, pemilik website memiliki kendali penuh atas identitas dan merek, sedangkan di media sosial konten lebih mudah tenggelam, bahkan berisiko terkena shadow ban," ujar Agil.

Halaman:

Editor: Delky Nofrizal

Sumber: Promedia

Artikel Terkait

Terkini

X