Pesan itu disampaikan Ketua Dewan Pengawas Badan Pimpinan Pusat Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (BPP PISPI), Prof. Dr. Achmad Tjachja Nugraha, dalam Musyawarah Nasional (Munas) IV PISPI di Jakarta.
Menurut Achmad, arah kebijakan pemerintah menuju swasembada pangan merupakan langkah strategis yang harus diperkuat melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, organisasi profesi hingga masyarakat.
Baca Juga: Bahlil Pastikan Warga Lokal Jadi Prioritas di Proyek Raksasa Masela
"Petani lokal merupakan ujung tombak keberhasilan pembangunan pertanian berkelanjutan. Karena itu, mereka harus menjadi prioritas dalam setiap kebijakan pangan nasional," ujarnya.
Ia menegaskan, peningkatan produktivitas pertanian tidak bisa hanya mengandalkan perluasan lahan. Modernisasi teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, akses permodalan, kepastian pasar, penguatan kelembagaan petani, hingga sistem distribusi yang efisien harus berjalan secara bersamaan.
Achmad juga menilai paradigma petani Indonesia perlu berubah. Petani masa kini tidak cukup berperan sebagai produsen, tetapi harus berkembang menjadi agripreneur yang mampu membaca peluang pasar, melakukan hilirisasi, memanfaatkan teknologi, serta menciptakan nilai tambah bagi hasil pertanian.
"Ketahanan pangan yang kuat harus dibangun dari desa. Ketika petani sejahtera, produksi meningkat, distribusi berjalan baik, dan harga tetap stabil, Indonesia akan semakin mandiri memenuhi kebutuhan pangannya," katanya.
Baca Juga: 28 Tahun Dinanti, Prabowo Resmikan Groundbreaking Proyek Raksasa LNG Abadi Masela
Dalam kesempatan itu, Achmad mengapresiasi berbagai langkah pemerintah memperkuat sektor pangan, mulai dari peningkatan produksi, pembangunan infrastruktur pertanian, pengembangan jaringan irigasi, hingga program hilirisasi yang dinilai menjadi fondasi penting menuju kedaulatan pangan nasional.
Meski demikian, ia menekankan keberhasilan program tersebut harus dijaga melalui kolaborasi lintas sektor agar hasil produksi petani terserap optimal, memiliki nilai tambah lebih tinggi, sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi.
Sebagai organisasi profesi yang menghimpun sarjana pertanian, PISPI menyatakan komitmennya mendukung program pemerintah melalui penguatan riset, pendampingan petani, pengembangan inovasi pertanian, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta mendorong lahirnya generasi agripreneur yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan mampu bersaing di tingkat global.
Achmad juga mengajak seluruh sarjana pertanian Indonesia mengambil peran lebih besar dalam mempercepat transformasi sektor pertanian melalui inovasi, penguatan kelembagaan petani, serta pengembangan teknologi.
"Saya mengajak seluruh sarjana pertanian untuk mengabdikan ilmu, pengalaman, dan inovasinya bagi kemajuan pertanian nasional. Bersama-sama kita wujudkan swasembada pangan, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia," tegasnya.
Ia optimistis, penguatan petani lokal yang didukung semangat inovasi dan kolaborasi akan membawa Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, tetapi juga menjadi salah satu kekuatan pangan dunia menuju visi Indonesia Emas 2045.